Tari Bali Bertemu Musik Dark Electro POP

Beberapa waktu yang lalu, ketika m (mayumi inouye) sedang mengajar tari di Yayasan Widya Guna, m bertemu dengan seorang penyanyi asal Belgia, Usi ES (Esther Weemaes). Mereka berbincang singkat, dan sesekali ia mengungkapkan bahwa ia senang melihat anak-anak yang begitu semangatnya latihan tari dan gamelan Bali, yang ketika itu sedang latihan Tari Gabor, Legong Lasem Lengkap, dan Legong Jobog.

usi-es-bubble-pv-026
the Bubble

Saat jeda istirahat mereka melanjutkan kembali pembicaraan. Usi ES merencanakan akan membuat video klip atas lagu yang baru ia ciptakan. Video klip ini akan mengunakan salah satu penari anak perempuan sebagai bintang utama, dan seorang penari dewasa. Menyesuaikan dengan cerita lagu dan karakter pemeran, ia pun langsung memutuskan mengajak m beserta seorang muridnya, Putri. Putri pun kelihatannya sangat senang akan ikut bergabung, dan menjadi bintang utama dalam video ini.

Beberapa hari kemudian m dan Usi ES kembali bertemu. Usi ES memperdengarkan lagu karyanya serta menjelaskan cerita lagu dan konsep pembuatan video klip ini. Sebuah lagu jenis Dark Electro POP, karya yang sangat bagus. m terus mendengarkan lagu ini dan mulai mengerti, hingga mendapatkan ide koreografi untuk Putri, begitu juga koreografi untuk peran m sendiri.

Latihan pertama Putri dilangsungkan pada hari Minggu sore di Yayasan. Satu jam lebih awal dari latihan rutin grup Yayasan. Koreografi yang m ajarkan ini sederhana. Koreografi tari Bali yang menyesuaikan dengan alur cerita pada Lagu. Awalnya cukup sulit bagi Putri karena ia terbiasa menari dengan iringan gamelan, namun akhirnya ia bisa merasakan nafas serta irama lagu ini dan menarikannya dengan baik sesuai koreografi yang m berikan. Dalam cerita ini m berperan sebagai penari yang mengenakan topeng kayu sederhana, simbolis sebagai sebuah pohon.

Beberapa minggu sebelum pengambilan gambar m dan Usi ES meninjau lokasi pada dini hari dan jelang matahari terbit, waktu ketika nantinya proses pengambilan gambar dilakukan. Saat itu hujan pun mengguyur, memang agak sedikit terhambat, langit diselimuti mendung tebal, dan mereka belum dapat secara pasti mengetahui posisi matahari terbit. Meskipun demikian mereka telah mendapatkan yang diinginkan dalam kunjungan ini. Lokasi suting ini sangat indah, hamparan rumput hijau yang luas, pohon-pohon yang berdiri kokoh, sungai, dan perbukitan.

usi-es-bubble-pv-026
the Bubble

Pada hari-hari jelang pengambilan gambar, semua semakin kawatir dengan kondisi cuaca yang hampir setiap harinya hujan. Namun karena sudah dilakukan persiapan yang matang — koreografi, lokasi suting, tata kostum, technical production, banten dan perlengkapan sesajen — suting pun akan dilakukan tetap sesuai jadwal.

Syukur! Dan bersyukur! Cuaca sangat mendukung, dua hari berturut-turut langit pagi cerah. Berkat Doa dan kerjasama semua tim mereka berhasil menyelesaikan suting ini dengan baik.

usi-es-bubble-pv-026
The film production teams

The Bubble

The Bubble (Official Video)

by Usi ES

  • Esther Weemaes (Konsep/Director/Penata Busana)
  • Peter Wall (kamerawan/Director)
  • Blair Robins (kamerawan)
  • Putri (Penari gadis kecil)
  • mayumi inouye m (Penari bertopeng, Koreografer)
  • TJ Concepts (Aksesori)
  • Ni Wayan & friend (penata rias)
  • kadek ferry f (Kru/Asisten)
  • Wayan Suasta (Kru/Sopir)
  • Steven Sanders (Video Editing)

usi-es-bubble-pv-026
Usi ES

The Bubble” dari Usi ES, karya Esther Weemaes, menceritakan kisah seorang anak perempuan (Putri) yang sendirian di sebuah perbukitan. Ia ada dalam dunianya sendiri, bermain, berlari-lari sambil memain-mainkan sebuah topeng. Sampai di suatu tempat ia melihat sebuah pohon besar. Ia pun mengikatkan tinggi-tinggi topeng yang ia bawa ke pohon itu, dan berimajinasi seolah-olah pohon itu hidup dan bergerak. Kemudian sambil memejamkan matanya ia memeluk pohon itu dengan perasaan yang dalam. Ketika ia membuka matanya betapa terkejutnya ia sudah mendapatkan dirinya berpakaian cantik dengan mahkota bunga emas. Pohon itupun hidup menjadi sebuah figur penari wanita dewasa bertopeng ( m ), dan menari. Gadis kecil ini tertarik dan ikut menari-nari meniru gerakan penari topeng tersebut. Penari topeng lalu mendekatinya, menariknya dan mengajaknya menari. Sesaat setelahnya perlahan-lahan penari topeng itu mundur dan melepaskannya hingga gadis kecil ini dapat menari dengan sendirinya. Ketika ia tersadar mampu menari sendiri, penari topeng ini sudah kembali menjadi sebuah pohon. Bukannya kecewa, gadis kecil ini malah senang, bersyukur, dan menjadi gadis kecil yang penuh percaya diri.

Matur Suksma!

The Bubble” juga disebut dalam sebuah koran Belgia “De Standaar” tanggal 19 Maret 2013

↑TOP↑